Selasa, 24 April 2018

The POST



Perjuangan kebebasan pers melawan pemerintah




Film THE POST dibintangi oleh meryl streep yang memerankan sosok yang menjadi penerbit surat kabar wanita pertama bernama Kay Graham. Tak sendiri, bersama tom hanks yang berperan sebagai seorang editor bernama Ben Bradlee dimana mereka terlibat dalam perseturuan antara wartawan dengan pemerintah.

Film ini berfokus pada keputusan Kay dan surat kabarnya untuk mempublikasikan berkas rahasia besar Pentagon di tahun 1971. Keputusan Kay ini tentu berdasar pada peran surat kabar yang harus berimbang dalam menyajikan informasi, apakah ia harus tetap menyimpannya sebagai rahasia atau menyajikan informasi pemerintah tersebut secara transparan.

Menariknya, film ini diangkat berdasarkan kisah nyata tentang surat kabar The Washington Post yang dipimpin oleh Katherine Graham atau dikenal sebagai Kay Graham. Saat itu ada analis militer bernama Daniel Ellsberg (diperankan Matthe Rhys) yang bertugas terjun ke medan perang untuk mengamati perkembangan perang Vietnam.

Sepulang dari Vietnam, dan menemukan beragam fakta ganjal yang seluruhnya direkam dalam bentuk dokumen. Dokumen-dokumen itulah yang kelak disebut sebagai Pentagon Papers yang menghebohkan dunia karena mengungkap rahasia perang AS dan Vietnam.
Di Washington, ada surat kabar lokal yakni The Washington Post yang tengah berjuang mempertahankan bisnis dan eksistensi mereka di bawah kepemimpinan Katherine "Kay" Graham (Meryl Streep). Di tengah gonjang-ganjing situasi ekonomi, The Washington Post tengah bersiap go public. Selain Kay, salah satu orang penting di surat kabar tersebut adalah sosok Ben Bradlee (Tom Hanks), sang Editor in Chief.

Surat kabar The New York Times membuat geger seluruh negeri karena mempublikasi isi dokumen Pentagon Papers ke publik. Dokumen tersebut kurang lebih menunjukkan betapa sebenarnya AS sudah kalah di perang Vietnam namun dengan sengaja membiarkan perang terjadi berlarut-larut, mengorbankan banyak nyawa tentara muda.

Kay harus berjuang mempertahankan posisinya di industri media yang kala itu dijalankan oleh mayoritas pria. Ia harus bisa mempertahankan idealisme dari sisi jurnalistik, sementara di sisi lain, persahabatan dan jaringan dengan pemerintah jadi taruhannya.

Nasib malang yang menimpa The New York Times karena pemerintahan Presiden Nixon mengancam keras aksi pembocoran Pentagon Papers ke publik. The New York Times pun digugat, dan Ben saat itu melihat ini sebagai peluang untuk unjuk kebolehan. Untungnya, dia punya tim editorial yang solid yang pada akhirnya sukses mendapatkan dokumen Pentagon Papers. 

Pada akhirnya Bradlee harus meyakinkan sang ketua The Washington Post, Katherine Graham, agar mengizinkan mereka mempublikasikan berita kontroversial itu. Oleh karena itu Katherine lah yang harus menampung seluruh beban itu. Pergolakan hati tak dapat dihindari. Atas dasar tuntutan hukum, para petinggi The Washington Post lainnya dan para investor terus mengintervensi agar tak menerbitkan berita tersebut, namun hati kecil Katherine menyarankan sebaliknya. Katherine harus memutuskan pilihan tersulit: memperjuangkan kebebasan pers atau menyelamatkan perusahaannya.

Artikel Feature

Hijab bukan hanya untuk menutup aurat Sebagai wanita muslim berhijab merupakan perintah yang wajib dikenakan, karena apa yang Allah...