Perjuangan
kebebasan pers melawan pemerintah
Film THE POST dibintangi oleh meryl
streep yang memerankan sosok yang menjadi penerbit surat kabar wanita
pertama bernama Kay Graham. Tak sendiri, bersama tom hanks yang berperan
sebagai seorang editor bernama Ben Bradlee dimana mereka terlibat dalam
perseturuan antara wartawan dengan pemerintah.
Film ini berfokus pada
keputusan Kay dan surat kabarnya untuk mempublikasikan berkas rahasia besar Pentagon
di tahun 1971. Keputusan Kay ini tentu berdasar pada peran surat kabar yang
harus berimbang dalam menyajikan informasi, apakah ia harus tetap menyimpannya
sebagai rahasia atau menyajikan informasi pemerintah tersebut secara
transparan.
Menariknya, film ini
diangkat berdasarkan kisah nyata tentang surat kabar The Washington Post yang
dipimpin oleh Katherine Graham atau dikenal sebagai Kay Graham. Saat itu ada analis militer bernama Daniel Ellsberg
(diperankan Matthe Rhys) yang bertugas terjun ke medan perang untuk mengamati
perkembangan perang Vietnam.
Sepulang
dari Vietnam, dan menemukan beragam fakta ganjal yang seluruhnya direkam dalam
bentuk dokumen. Dokumen-dokumen itulah yang kelak disebut sebagai Pentagon
Papers yang menghebohkan dunia karena mengungkap rahasia perang AS dan Vietnam.
Di
Washington, ada surat kabar lokal yakni The Washington Post yang tengah
berjuang mempertahankan bisnis dan eksistensi mereka di bawah kepemimpinan
Katherine "Kay" Graham (Meryl Streep). Di tengah gonjang-ganjing
situasi ekonomi, The Washington Post tengah bersiap go
public. Selain Kay, salah satu orang penting di surat kabar
tersebut adalah sosok Ben Bradlee (Tom Hanks), sang Editor in Chief.
Surat kabar The New York Times membuat geger seluruh
negeri karena mempublikasi isi dokumen Pentagon Papers ke publik. Dokumen
tersebut kurang lebih menunjukkan betapa sebenarnya AS sudah kalah di perang
Vietnam namun dengan sengaja membiarkan perang terjadi berlarut-larut,
mengorbankan banyak nyawa tentara muda.
Kay harus berjuang mempertahankan posisinya di
industri media yang kala itu dijalankan oleh mayoritas pria. Ia harus bisa
mempertahankan idealisme dari sisi jurnalistik, sementara di sisi lain,
persahabatan dan jaringan dengan pemerintah jadi taruhannya.
Nasib malang yang menimpa The New York Times karena
pemerintahan Presiden Nixon mengancam keras aksi pembocoran Pentagon Papers ke
publik. The New York Times pun digugat, dan Ben saat itu melihat ini sebagai
peluang untuk unjuk kebolehan. Untungnya, dia punya tim editorial yang solid
yang pada akhirnya sukses mendapatkan dokumen Pentagon Papers.
Pada akhirnya Bradlee harus meyakinkan sang
ketua The Washington Post, Katherine Graham, agar mengizinkan
mereka mempublikasikan berita kontroversial itu. Oleh karena itu Katherine lah
yang harus menampung seluruh beban itu. Pergolakan hati tak dapat dihindari.
Atas dasar tuntutan hukum, para petinggi The Washington Post lainnya
dan para investor terus mengintervensi agar tak menerbitkan berita tersebut,
namun hati kecil Katherine menyarankan sebaliknya. Katherine harus memutuskan
pilihan tersulit: memperjuangkan kebebasan pers atau menyelamatkan
perusahaannya.
